Selasa, 12 Juli 2011

LABUHANBILIK (PANE)

            Bagi tman2 yg berasal dari kecamatan Panai Tengah,. ga da salhnya kalo kita membca blog ini, Mungkin dngan mmbaca blog ni, kita lbih mengethui sedikit bnyaknya tentang kecamatan kita.


           Panai Tengah adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Indonesia.. Ibukota dari Kecamatan ini adalah Labuhanbilik, dalam sejarah mengatakan bahwa Labuhanbilik dahulu pernah menjadi ibukota Kesultanan Panai.

 Pemerintahannya di atur oleh Camat. Luas wilayah Kecamatan ini kira-kira 483,74 km², jumlah penduduk 25.568 jiwa (2001), kepadatan 53 jiwa/km², terdapat 10 desa/kelurahan diantaranya adalah: Bagan Bilah, Labuhan Bilik, Pasar Tiga, Sei Merdeka, Sei Nahodaris, Sei Pelancang, Sei Rakyat, Sei Siarti, Selat Beting Dan Telaga Suka.. 

Terletak di antara 2°27'42.78"N Lintang Utara dan 100°14'31.49"E Lintang Selatan.. Bertetangga dengan Kecamatan lain, seperti: Kecamatan Panai Hilir sebelah Baratlaut, Kecamatan Pasir Limau sebelah Tenggara, Kecamatan Panai Hulu sebelah Barat Daya ... 

Mayoritas penduduk nya memakai bahasa daerah yg disebut dengan bahasa PANE,..Penghidupan di kota pane berbagai macam, mulai dari Nelayan, Bertani dan berbagai macam lainnya,

Kota penghasil Nenas ini memiliki sebuah tempat wisata yg Indah dan Asri..
tempat wisata itu adalah sebuah Pulau, terletak di tengah2 Sungai Barumun. Masyarakat Pane sering menyebutnya dengan nama Pulau Sikantan.. tapi sayang , tempat wisata itu telah lama di lupakan, maksudnya jarang di kunjungi..

Konon zaman dahulu, pulau ini terjadi akibat sebuah Kapal Anak Durhaka yang tenggelam setelah sebuah kutukan keluar dari mulut sang ibu..
Tapi ntah lah,, hanya Allah lah yang maha tahu.,


                                                          FOTO PULAU SIKANTAN..

oooooooooooooo0oooooooooooooo




     Setalah kita membahas tentang kota kita yang sekarang, ga da salah nya kalo kita membahas tentang kota kita di zaman dahulu,, mungkin artikel di bawah ini belum begitu lengkap, tapi sebelum di perbaharui ga da salahnya kalo kita membaca,, hitung2 meneruskan bakat dan hoby baca.,., J

Sebuah sejarah akan menerangkan, betapa majunya kota kita diwaktu zaman kerajaan dahulu.,.,
Berikut ceritanya.. 

 
SEJARAH KERAJAAN PANAI

Kerajaan Panai pada masa kolonial merupakan daerah yang termasuk dalam Residensi Sumatera Timur (menurut strukturnya, mulai terbentang dari Tamiang hingga daerah Riau).


Pada masa kolonial, daerah Panai / Labuhanbilik merupakan pelabuhan ketiga terbesar setelah pelabuhan Belawan dan Tanjung Balai. Begitu pesatnya, akhirnya terdapat perwakilan dagang asing di daerah ini seperti : Guntzel Schumacher ( Jerman ), Herrison ( Inggris ), Vanni dan Deli Aceh ( Belanda ). Selain itu terdapat juga sarana angkutan antar pulau / pelayaran asing seperti kapal “SS Ayutia” milik Jerman, K.P.M ( Belanda ).


Kapal pelayaran ini bergerak menuju Singapura, Malaysia, bahkan menuju Eropa. Saat pecah perang dunia pertama (1914-1918), kapal “SS Ayutia” berlabuh selama 4 tahun di Labuhanbilik.


Labuhanbilik atau Panai didirikan oleh Sutan Kaharuddin ( Marhum Kaharuddin ), Raja Kerajaan Panai ke 4, disekitar tahun 1815. Sebelumnya pusat kerajaan masih berada di hulu sungai. Sementara itu, Kerajaan Panai dibentuk oleh Raja Murai Perkasa Alam.
Asal nama Panai hingga saat ini belum ada yang pasti. Ada yang mengatakan nama Panai berasal dari bahasa Minangkabau (Paneh) yang artinya Panas. Hal ini ada juga benarnya mengingat daerah Panai merupakan daerah yang agak panas udaranya. Juga adanya petunjuk dari barang-barang peti kemas yang dibawa oleh kapal pengangkutan yang menujukan ke Paneh Labuhanbilik.

Sepuluh abad yang lalu, sebelum Kerajaan Panai berdiri, nama Panai atau Pannai telah ada. Nama ini ditemukan pada tahun 1030 masehi dalam sebuah prasasti. Oleh Prof. Nilakanta Sastri, seorang sarjana India, mahaguru Universitas Madras, pada tahun 1940 menterjemahkan isi prasasti tersebut ke dalam bahasa Inggris. Prasasti ini merupakan peninggalan Raja Rayendra Cola I, Kerajaan Tanjore (India Selatan), yang mana pernah melakukan penyerangan ke beberapa wilayah, termasuk wilayah Pulau Sumatera. Daerah yang menjadi tempat penyerangan di Pulau Sumatera antara lain Kerajaan Lamuri (Aceh), Pannai (Sumatera Timur),  dan Sriwijaya (Sumatera Selatan).

Salah satu isi atau nukilan dari prasasti tersebut adalah : "Pannai with water in its bathing ghats".
Pannai yang dimaksud disini terletak di daerah sungai Barumun (Panai), wilayah Sumatera Timur. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya berupa patung-patung tembaga di Padang Lawas oleh Prof. Schnitger, sarjana Belanda, pada tahun 1936. Salah satu diantaranya yaitu Candi Bahal I, merupakan bukti peninggalan Raja Rayendra Cola I yang pernah memasuki wilayah Sumatera Timur (Panai).


Namun, ada yang sangat berbeda dari isi prasasti tersebut (yang menyebut nama Pannai). Isi prasati yang menyebut nama Pannai terlalu sangat sederhana, sangat berbeda dengan isi prasasti yang menyebutkan nama daerah lain yang menunjukkan kedahsyatan penyerangan (pertempuran) yang dilakukan oleh Raja Rayendra Cola I. Sebagai contoh yaitu :
"(Rayendra) having despatched many ships in the midst of the rolling sea and having caught Sanrama Vijayattunggavarman, the King of Kadaram, together with the elephants in his glorious army, (took) the large heap of treasures which (that king) has rightfully accumulated".

Dari nukilan prasasti tersebut dapat diketahui betapa dahsyatnya penyerangan yang dilakukan oleh Raja Rayendra Cola I hingga akhirnya Raja Kadaram (Sang Rama Wijayatunggawarman) dapat ditawan. Hal ini sangat berbeda dengan nama Pannai, sepertinya tidak terjadi pertempuran.

Dapat ditarik kesimpulan yaitu, masuknya Raja Rayendra Cola I ke wilayah Pannai sepuluh abad yang lalu, mereka hanya menemukan daerah itu (Padang Lawas) masih sedikit penghuninya, belum ada kesatuan hukum,  ataupun belum ada ikatan kelompok yang dapat dikatakan sebagai sebuah Kerajaan.

Dari keterangan diatas, adanya nama Panai tentu setidaknya melibatkan nama sungai Panai (Barumun) ataupun sungai Batang Pane, anak cabang sungai Barumun. Diduga, nama sungai-sungai ini telah ada sebelum datangnya Raja Rayendra Cola I, kemudian dengan nama sungai inilah mereka gunakan untuk dituliskan dalam prasati.

Raja Murai Perkasa Alam juga ada kemungkinan menamakan daerah kerajaannya (Kerajaan Panai) bersumber dari nama sungai.


Demikianlah uraian singkat asal nama Kerajaan Panai. Walaupun demikian, data-data yang dituliskan diatas bukanlah menjadi data-data mutlak, namun jika ingin lebih dalam mengetahuinya lagi tentu akan sangat sulit ditelusuri. Yang pastinya, nama Panai atau Pannai telah ada 10 abad yang lalu. tetapi alangkah baiknya kalo kita mencari tau lbih dlam lagi..





                                                           FOTO KERJAAAN PANAI...


      Nah sekarang para sahabat sudah pada tau kan, gimana sejarah kota kita..
cari lah informasi lebih dalam lagi tentang kota kita... kalo anda sudah menemukan informasi sejarah tersebut, jika ada waktu luang,, coba berbagi dengan saya.


1 komentar: